HEADER

Showing posts with label cerpen. Show all posts

Arti Sebuah Kesempurnaan

Seorang lelaki yang sangat tampan dan sempurna merasa bahwa Tuhan pasti menciptakan seorang perempuan yg sangat cantik dan sempurna pula untuk jodohnya. Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya. Kemudian sampailah ia disebuah desa. Ia bertemu dengan seorang petani yg memiliki 3 anak perempuan dan semuanya sangat cantik. Lelaki tersebut menemui bapak petani dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya tapi bingung; mana yang paling sempurna.
Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu persatu dan si Lelaki setuju. Hari pertama ia pergi berduaan dengan anak pertama. Ketika pulang,ia berkata kepada bapak Petani,”Anak pertama bapak memiliki satu cacat kecil, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan.”
Hari berikutnya ia pergi dengan anak yang kedua dan ketika pulang dia berkata,”Anak kedua bapak juga punya cacat yang sebenarnya sangat kecil yaitu agak juling.”
Akhirnya pergilah ia dengan anak yang ketiga. Begitu pulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata,”inilah yang saya cari-cari. Ia benar-benar sempurna.”
Lalu menikahlah si Lelaki dgn anak ketiga Petani tersebut. Sembilan bulan kemudian si Istri melahirkan. dengan penuh kebahagian, si Lelaki menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek. Ia menemui bapak Petani dan bertanya “Kenapa bisa terjadi seperti ini Pak. Anak bapak cantik dan saya Tampan, Kenapa anak saya bisa sejelek itu..?”"
Petani menjawab,” Ia mempunyai satu cacat kecil yang tidak kelihatan . Waktu itu Ia sudah hamil duluan…..”
Kadangkala saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat kemudian kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan, maka segala sesuatunya akan terasa istimewa.
Learn more »

Suatu Saat di Kota Tua



Kenanglah Aku-nya Naff sudah sampai ke reffnya. Tapi Aku masih saja menulis surat yang gagal berkali-kali. “Duh, susahnya bikin surat untuk cewek yang satu ini!” aku mengeluh. Sebenarnya Aku paling gak suka ada cowok yang menyukai cewek pake surat-suratan segala. Gak jamannya lagi. Itu juga nasehatku pada teman-temanku. Tapi kali ini aku seperti terkena bumerangku sendiri. Ah, sebodo amat. Cuek. Aku coba lagi, sret…sret….sret! dan salah lagi. Pikiranku jadi kacau. Ku sobek-sobek kertas surat berparfum itu. Bret! Bret! Bret!. Beres matikan tape lalu pergi keluar kamar!
Pikiranku masih terus liar. Rasanya Rere dah merubah semua kebiasaanku. Gimana enggak, mulai dari senyum, sorot mata dan banyak lagi. Pokoknya semua mua yang ada dalam diri Rere bagai sentuh magicyang gak ada di bengkel manapun. Luar biasa!. Tapi rasanya koq Aku dihinggapi rasa takut yang amat sangat. Takut kehilangan Rere dan takut ….Rere gak menyukaiku. Ah, parah banget ! “Kayaknya sih Tiara suka ma gue” gitu batinku menghibur.
“To, tolongin gue dong?” pintaku sesampai di rumah Yanto.
“Minta tolong pa’an? Tumben-tumbenan elo minta tolong ma gue” kata Yanto.
“Gue lagi jatuh cinta”
“Jiaaa…ma siapa? Aneh banget elo kena virus kayak gini” Yanto terus meledekku. Aku mulai jengkel.
“Nih serius, urusan dunia akherat”
“Huu…segitu jauhnya sampai ke akherat”
“Ya iyalah…” Aku membela diri. Yanto akhirnya manggut-manggut kayak dukun abis ngedengerinkeluhan pasiennya. Dan….
“Siapa sih cewek yang elo maksud?” tanya Yanto. Aku mulai menggeser dudukku mendekati Yanto, kemudian kudekati telinga Yanto.
“Cewek itu namanya Rere…?” bisikku ke telinganya. Yanto terkejut.
“Kenapa, To?” tanyaku menyelidik.
“Ah, enggak, gak papa”
Jawaban Yanto membuat aku bertanya-tanya. Aku mendesak Yanto tapi ia cuma bilang gak papa.
“Ok, deh” Yanto mengalihkan kecurigaanku. Nanti gue datengin dulu Rere dan bicara empat mata ma dia. Gimana?”
“Terserah elo gimana caranya”
“Ok, teman. Elo tunggu khabar dari gue ya?”
Kami  berpisah. Tinggal Yanto sendirian. Mulai deh pikirannya kacau. Entah kenapa sekarang malah Yanto yang kacau. Bingung. Pasti kenapa kenapa nih….?
Benar, janjinya ditepati. Yanto bilang bahwa Rere mau ketemuan di Kota Tua. Duh, aku senang banget. Aku mulai salah tingkah. Sambil terbungkuk-bungkuk….”Makasih To, makasih To, elo mang sahabat gue yang paling baik” aku puji Yanto abis-abisan. Yanto cuma tersenyum. Lalu aku mohon pamit pulang. Langkahku semangat kemerdekaan. Sesampainya di rumah aku langsung bunyikan MP3-ku, mengalunlahKenanglah Aku-nya Naff.
Waktu yang dijanjikan sudah tiba. Perasaanku gak karuan. Rasanya ramai. Aku harus sudah siap ketemu Rere di Kota Tua. Ah, benar-benar gak bisa diatur nih detak jantungku. Dang dang tut! Dang dang tut! Bunyi jantungku (aneh!).
Aku melihat Rere dari kejauhan. Duh, itu dia Rere sedang duduk menunggu di kursi Taman Fatahila.
“Hmm…dari jauh aja sudah kelihatan cantik…” Aku memuji dalam hati sambil mendekati ke arah Rere.
“Hai” sapaku
“Hai juga” balas Rere
“Dah lama nunggu ya?”
“Belum juga sih”
Lalu kami saling bertatapan. Senyum Rere mengembang. begitu juga senyumku. Mirip iklan pasta gigi. Oh, My God, itu senyum Rere yang selalu kuimpikan.
“Rere…, sebenarnya aku…aku…” kataku terbata-bata. Nervous.
“Rere dah tau koq apa yang mau kamu katakan”
“Lho, dari Yanto, ya?”
Rere mengangguk.
“Terus kamunya gimana ma aku?” Aku menyelidik penasaran.
Rere terdiam. Ada seribu beban yang menindih pikiran Rere entahlah koq tiba-tiba aja Rere punya rasa bersalah terhadapku.
“Andre, sebenarnya…..” Rere nggak sampai hati coba menjelaskan padaku.
“Ada apa Re? kamu sayang ma aku atau …?”
“Yanto, teman kamu…Oh…” Rere menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa dengan Yanto ? ngomong dong!” aku mendesak.
“Rere udah lama…dah lama pacaran ma Yanto”
“What?” Aku kagetnya minta ampun. Petir telah menyambar jantungku. Hampir berhenti berdetak!.
Rere nggak berani menatap wajahku. Ia sembunyikan wajahnya di telapak tangannya.
“Jadi Yanto pacar kamu?” tanyaku bodoh. Rere mengangguk lemah.
Se
Sekali   lagi  aku   cuma   bisa memandang  Rere.  Kali ini  pandanganku  begitu  dalam. Langsung  ke pusat sasaran yaitu jantungnya. Terasa tubuh  Rere bergetar   hebat. Ia   sembunyikan  wajahnya  di   balik    rambutnya. Aku genggam jemarinya. Erat sekali. Diam.  Sepi. Cuma hati yang bicara.
“Terus    kenapa   kamu    mau bertemu   denganku?”   suaraku memecah kesunyian.
 “Yanto yang menyuruhku. Dia gak mau ngecewain kamu, meski pun… meskipun…” Rere menghentikan omongannya. Ia pandang wajahku.
“Meskipun aku berat meninggalkan Yanto”
Seribu rupa kini perasaanku. Aku berusaha mengendalikan perasaanku.
“Re” panggilku. Rere menoleh. Hmm, wajah itu. Wajah yang selalu menari-nari di mata ku. Wajah yang selalu menggodaku setiap hari.
“Kembalilah ke Yantomu. Aku bahagia melihat kamu bahagia”
Rere menangis. Digenggamnya tanganku. Dikecupnya telapak tanganku.
“Semoga kamu mendapatkan yang lebih dari aku, ya” Rere berusaha menenangkan perasaanku. “Kamu harus ingat Ndre, setitik kasih membuat kita sayang. Seucap kata membuat kita percaya. Sekecil luka membuat kita kecewa. Namun hanya satu yang ingin aku kau tau bahwa rasa sayangku akan selalu ada untukmu”
Aku berusaha tersenyum. Tapi batinku protes, “Gak ada yang lebih baik dari kamu, Re”
Suasana Kota Tua begitu ramai. Tapi batinku sepi. Lebih sepi lagi saat tubuh Rere hilang dari pandanganku. “Kamulah segalanya Re. Gak ada yang bisa ngebandingin kamu. Terlalu sempurna. Sebenarnya aku mau genggam tanganmu agar kau tak jauh dariku. Aku mau terus memeluk tubuhmu agar kau tak hentinya hangatkanku. Dan aku mau terus menciummu agar kau kan tetap mengingatku. Tapi…ah, semuanya tak diijinkan oleh waktu” Aku terus membatin. Seolah gak percaya apa yang baru kualami. Benar juga cinta adalah derita yang istimewa dan membahagiakan, barangsiapa memilikinya dalam hati akan mengetahui rahasia cinta.Kenanglah aku sepanjang hidupmu, Re….
Aku seperti melihat
suara …
tak bisa kusapa
tak mampu kutanya
Padahal angin telah
membantuku
terbangkan asa
pulihkan rasa
Ah, pada kamulah
semua sabda bertahta

Learn more »

Kebahagiaan Cinta


Sekitar jam setengah satu pagi, aku tidak bisa tidur. Aku masih heran dengan ucapan Rangga tadi. Tiba-tiba Rangga datang ke rumahku dan menyatakan perasaannya. Rangga, cowok populer satu itu kenapa bisa menyatakan perasaannya padaku? Pada cewek yang terisolasi dari sekolahannya ini? pada cewek yang tidak pernah dianggap ada di sekolahannya ini?. Aku terus memikirkan itu.

Besoknya tiba-tiba Rangga menhapiriku di kelas. Dia memang mengobrol dengan teman-temannya tapi, matanya itu... selalu tertuju padaku. Dan itu membuat aku.. gugup. Khanza, sahabatku pun, menenangkanku. Kemudian Rangga menghampiriku. “Jawabannya udah, Res?” tanya Rangga. Aku diam menatapnya. Kemudian aku menundukkan kepalaku, takut.

“Mau ya, Res? Fares?” tanya Rangga lagi. Khanza menyenggol-nyenggolku. Aku bingung kemudian aku berdiri dan bilang pada Rangga, “tunggu nanti di taman sekolah. Udah sono lo pergi!”. Kemudian Rangga pergi sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.

Pulang sekolah aku dan Khanza pergi ke taman menemui Rangga. Kulihat Rangga sudah duduk menungguku. Aku semakin gugup. Kemudian aku menghampiri Rangga.

“Kenapa lo nembak gue?” tanyaku gugup,

“Karna gue suka sama lo”, aku menatap kaget Rangga. Kaget dengan jawaban Rangga itu. Kulihat Rangga hanya tersenyum padaku.

“Gue kan nggak populer, Ga. Masih banyak cewek-cewek cantik yang suka sama lo” ucapku lagi. Khanza mengiyakan.

“Tapi gue sukanya sama lo dan gue mau lo jadi pacar gue!” sahut Rangga tegas. Entah mengapa aku begitu bodoh kala itu. Tiba-tiba saja aku bilang iya pada Rangga. Apa mungkin karena aku ketakutan sampai bertindak bodoh seperti ini? padahal aku tau, menjadi pacar Rangga, sama saja menjadi putri bagi pangeran. Pasti banyak cewek-cewek yang akan mencabik-cabikku.

Benar saja dugaanku, ternyata berita aku pacaran dengan rangga sudah tersebar seantero sekolahan. Cewek-cewek memandang sinis kearahku. Aku pun tidak berani keluar kelas karena itu. Padahal, di dalam kelas pun aku sudah muak mendengar sindiran teman-temanku. Ingin rasanya aku keluar dari sekolah ini.

Tiba-tiba geng Black Devil, geng yang anggotanya cewek-cewek cantik nan seksi itu menghampiriku. Bunga, ketua geng itu menggebuk mejaku. “Dasar cewek nggak tau diri! Udah jelek belagu lagi! Lo kan tau siapa yang berhak dapetin Rangga! Lo pasti mandi kembang empatbelas rupa buat nyihir Rangga kan! Lo pasti main dukun! Cuihh!” bentaknya sambil meludah. Aku tidak terima dengan bentakan itu. Kemudian tanpa kusadari, aku menggebuk meja juga. Daripada malu karena sudah menggebuk meja, akhirnya aku membentak Bunga ganti.

“Gue nggak pernah ke dukun ya! Rangga yang nyatain perasaannya ke gue duluan! Gue juga nggak percaya dengan apa yang dilakuin tuh orang! Dan gue sebenernya nggak tertarik dengan ucapan Rangga karena gue tau cuma lo yang bisa dapetin Rangga! Tapi gue pikir, its time for chage! So, gue terima dia” bentakku ganti dan pergi meninggalkan kelas. Aku yakin pasti Khanza kaget dengan ucapanku.

Saat akan keluar kelas, aku melihat Rangga menatapku dalam. Kubalas tatapan Rangga dengan tatapan sebal dan benci. Dasar cowok! Kenapa dia nggak ngebantu gue ngadepin Bunga?! Ucapku dalam hati.

Keluar toilet, tiba-tiba Aldo, salah satu teman Rangga mendatangiku.

“Gue surprise banget sama ucapan lo tadi waktu ngebentak bunga. Semoga nantinya lo kuat saat tau yang sebenernya ya” ucap Aldo tersenyum kemudian pergi meninggalkanku. Aku diam dengan tanda tanya besar dikepala. Apa maksud perkataan Aldo itu?

Setelah tiga bulan berpacaran dengan Rangga, aku semakin terbiasa dengan keadaan. Cewek-cewek juga terlihat sudah cuek dengan hubunganku dengan Rangga. Walaupun masih ada yang suka menyindirku, tapi Rangga bilang cuek saja dengan hal itu. Black Devil juga sudah tidak pernah menyindirku lagi. Yah, walaupun mereka terutama Bunga masih suka deketin Rangga, tapi biarlah. Rangga memang cowok populer yang pantas dideketin sama cewek populer juga.

Malam itu, Rangga datang ke rumahku. Aku yang sedang belajar, kaget saat Mama bilang ada Rangga. Dengan hanya mengenakan celana pendek dan baju bergambar doraemon, buru-buru aku turun kebawah, ke ruang tamu. Kemudianku sapa Rangga yang sedang duduk. Rangga menatapku sejenak, kemudian disapanya aku balik. “Pergi yuk! Gue lagi suntuk nih” ucap Rangga. Aku menggeleng dengan alasan ingin belajar. “Udahlah, belajar kan bisa entar-entar. Gue tunggu empat puluh lima menit dari sekarang! Cepet!” ucap Rangga kemudian dan menyuruhku ganti baju. Aku pun akhirnya menuruti.

Sesuai janji, empat puluh lima menit kemudian aku turun dari kamar dengan menggunakan dress berwarna krem ungu seatas dengkul tapi tetap dengan sepatu kets unguku. Sebenarnya bajuku ini ku sesuaikan dengan baju dalaman Rangga yang berwarna krem dan blazer coklatnya Rangga. Kemudian kuhampiri Rangga yang menatap padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menatapku seperti itu. Ku goyang-goyangkan tanganku kekanan dan kekiri tepat didepan wajah Rangga. Kemudian Rangga sadar dan bilang, “lo cantik, Fares. Kenapa gue nggak dari dulu sadar ya? Hehe. Ayo!”. Kemudian aku dan Rangga pergi dinner malam itu.

Setelah dinner Rangga mengajakku ke tempat seperti sebuah taman. Tapi kulihat jarang ada orang di taman itu. Kemudian Ranga menyuruhku duduk dibangku dekat lampu taman. Remang-remang aku melihat wajah Rangga yang terlihat gugup. Kenapa dia? Tanyaku dalam hati.

Kemudian saat kami berdua sedang mengobrol, tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku. Aku sudah pasti gugup. Jantungku berdetak cepat dari biasanya. Kami berdua saling pandang. Kemudian Rangga semakin mendekat denganku. Dipeluknya tubuhku ini. aku juga bisa merasakan detak jantung Rangga. Jantung itu sama sepertiku, berdetak dengan cepat. Setelah memelukku, kemudian Rangga mencium keningku. Seumur-umur aku belum pernah dilakukan seperti ini. rangga adalah cowok pertamaku. Cowok pertama yang menciumku. Kemudian didekatkannya wajah Rangga ke telingaku. Lalu dia berkata, “gue suka sama lo, Res. Lebih dari suka bahkan”, Rangga kemudian tersenyum dan memelukku lagi. Aku kaget tak percaya.

Ucapan Rangga tadi malem benar-benar buat aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku seperti orang gila! Apa mungkin aku mulai jatuh cinta? Sama Rangga? Cowok populer itu? Apa mungkin ucapannya tadi malam sungguhan? Tanyaku dalam hati. Khanza tiba-tiba bertanya, “lo kenapa sih, Res? Dari tadi gue perhatiin... senyum-senyum sendiri?”. “Gue lagi jatuh cinta, Za” jawabku sambil senyum-senyum. “Sama Rangga? Nggak mungkin! Dia Cuma mainin elo doang tau! Sadarrr!!!!!” teriak Khanza kemudian. Teman-teman yang lainnya lantas menatap kesal kearah aku dan Khanza.

Kutarik Khanza keluar kelas. Kami pun ke kantin. Disana aku mulai menjelaskan semuanya. “Pertamanya gue juga mikir Rangga cuma main-main, Za. Tapi liat, udah tiga bulan lebih gue sama dia sekarang. Gue kira pasti cuma dua hari gitu. Kejadian tadi malem, bener-bener buat gue yakin kalo Rangga beneran sama gue, Za. Dia pasti serius sama gue” ucapku panjang-lebar. Khanza kemudian menarik nafas. “Terserah lo deh, Res. Mungkin menurut lo ini yang terbaik. Yah, semoga aja pemikiran lo itu bener. Rangga serius dengan lo! Eh tapi, kalo kenyataannya sebaliknya, lo nggak boleh down dan harus terima semuanya, oke?” sahut Khanza kemudian. Aku mengangguk menjawab sahutan Khanza. Kemudian aku memeluk senang sahabatku itu.

Seminggu kemudian, aku dan Rangga semakin dekat dan semakin sering keluar. Sekedar ke toko buku atau jalan-jalan. Hingga pada pagi itu, sekitar jam 10 pagi, aku kebelet buang air kecil. Aku pun berlari secepat mungkin agar cepat sampai ke toilet. Terdengar suara Rangga di salah satu kelas. Aku pun berhenti berari dan melihat Rangga dan teman-temannya.

“Ga, lo udah berhasil naklukin Fares selama tiga bulan! Lo juga udah dapet duit imbalan kan? Enak jadi lo, Ga! Tapi kenapa lo mau terus-terus deket sama dia? Sama cewek jelek kayak dia! Ini Cuma taruhan, Ga! Dan lo udah menangin taruhan itu. Masih banyak kan cewek cantik lainnya dari pada dia? Bunga contohnya, yang udah bener-bener ngejar lo gitu. Kenapa pake acara seminggu lo deket sama dia, Ga? Sedeng lo!” ucap salah satu temannya Rangga saat itu. Aku lihat ada Aldo juga disana. Aku benar-benar terkejut dengan ucapan itu. Taruhan?! Aku hanya dijadikan taruhan oleh Rangga dan teman-temannya?! Dasar! Semuanya biadap! Teriakku dalam hati.

Kemudian aku berlari balik ke dalam kelas dan mengambil tasku. Tidak peduli ada guru saat itu juga. Air mata sudah mengalir dipipiku. Hatiku benar-benar sakit. Omongan Khanza benar, Rangga tidak akan pernah suka padaku. Kenapa aku bodoh begini?! Cinta benar-benar membuat orang gila! Ucapku dalam hati.

Dua hari ini aku tidak berangkat kesekolah. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Mama, jadi Mama pun memaklumi. Kemarin Khanza juga sudah datang ke rumah. Menanyakan kenapa aku nekad mengambil tas lalu pulang padahal masih ada guru. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada Khanza. Khanza hanya menyemangatiku. Aku tidak bisa memegang janjiku pada Khanza. Aku tidak bisa kalau tidak down begini. Hatiku benar-benar sakit mendengar dengan kuping sendiri kalau aku hanya dijadikan permainan orang-orang saja. Aku sedih dan terpuruk.

Malamnya tiba-tiba saja Mama bilang ada yang mencariku. Tadinya aku tidak mau turun dan menumuin orang itu, tapi karna Mama memaksa, akhirnya aku turun dengan mata bengkak karena menangis. Lelaki itu membelakangiku. Saat kusapa, ternyata... Aldo?

“Ngapain kesini?!” tanyaku ketus. “Gue kesini nggak disuruh Rangga kok. Gue kesini ya mau jelasin semuanya ke elo, Res. Gue tau kalo lo udah tau semuanya” jawab Aldo tenang. “Tau kalo gue cuma jadi bahan taruhan?” tanya gue kemudian. Aldo hanya mengangguk malu. Ingin sekali aku mencekik cowok di depanku ini. karena bagaimanapun juga, dia ikut andil dalam taruhan ini. karena kulihat saat itu, dia ada disana.

“Kita emang jadiin lo bahan taruhan, Res. Kita semua minta maap karena itu. Kita jadiin lo bahan taruhan ya.. karna lo itu lugu. Jadi pasti gampang mengaruhinya, Res. Tiga bulan, Res. Cuma tiga bulan kita nyuruh Rangga deketin elo tapi.. lo tau sendiri kan? Tiga bulan lebih Rangga malah deketin lo terus. Ya, walau belum dapet penjelasan dari Rangga.. tapi gue yakin dia mulai suka sama lo, Res. Dia suka serius sama lo!” jelas Aldo menatapku. Aku terdiam. Memikirkan ucapan Aldo itu.

“Nggak! Gue udah nggak yakin lagi! Gue nggak percaya ucapan lo, Do! Lo sama aja kayak cowok lainnya dan Rangga! Gue nggak bisa percaya elo!” teriakku kemudian berlari ke kamar dan meninggalkan Aldo.

Besoknya pun aku kembali ke sekolah. Sebelum sampai kelas, tiba-tiba geng Black Devil menghampiriku. Mereka semua kemudian tertawa. “nggak mungkin Rangga beneran suka sama lo, kampung!” ucap Bunga kemudian pergi diikuti teman-temannya. Aku langsung berlari ke kelas. Aku terus menahan air mata yang mulai menetes, tapi usahaku gagal. Air mata itu menetes juga. Aku benar-benar bodoh!

Pulang sekolah, entah kenapa langkah kakiku malah pergi ke taman dulu Rangga mengajakku. Aku hanya ingin sendiri. Dan kurasa, taman ini cocok untuk hatiku. Tempat yang tenang dan damai. Aku juga duduk di bangku yang sama seperti dulu saat aku berdua dengan Rangga. Tiba-tiba teringat hari itu lagi. Dimana saat Rangga mengucapkan kata itu. Sekarang semua sirna. Ternyata ucapan itu hanya pura-pura. Rangga, cowok itu... harusnya aku sadar...

Sampai sore aku hanya duduk dibangku dekat lampu taman. Memandang kosong ke depan. “Bukan maksud gue begitu, Res”, tiba-tiba ucapan itu membuyarkan lamunanku. Aku pun menengok kesamping. Kulihat Rangga duduk disampingku sambil memandang kearah depan juga. Kemudian aku ikut memandang kearah depan juga. Air mataku mulai menetes. Ingat perkataan temannya Rangga waktu itu. Saat aku hanya dijadikan bahan taruhan.

“Kenapa lo jahat banget sih, Ga! Gue tau, gue emang cewek lugu yang nggak ngerti apa-apa malah lo itu pacar pertama gue! Tapi.. seenggaknya lo mikir perasaan gue dong! Kata-kata sayang itu.. kata-kata itu.. ternyata hanyalah kiasan! Ternyata lo nggak bener suka apalagi sayang sama gue. Tapi thanks karna dengan itu.. gue belajar buat nggak cepet kemakan dengan ucapan bullshit cowok!” ucapku. Rangga kemudian menggenggam tanganku. Dihadapkannya aku pada dirinya.

“Gue salah, Res. Malah karna taruhan itu.. emm.. gue.. gue.. beneran suka.. sama.. sama.. lo. Ini sungguhan, Res! Ini perasaan gue sama lo! Karena taruhan itu gue su.. gue suka sama lo! Maap karena kebodohan gue udah bohongin lo, Res. Gue bener-bener minta maap tentang taruhan itu, Res. Sekarang.. gue bener-bener jatuh cinta sama lo” jelas Rangga. Aku hanya melihat wajah cowok itu. Kali ini aku yakin, Rangga benar-benar mengucapkan dari hati. Aku melihat ketulusan di wajah tampan Rangga itu.

“Fares, gue sayang sama lo” ucap Rangg lagi kemudian memelukku. Memeluk eratku seakan tidak mau melepaskannya. Entah kenapa, aku merasa nyaman dengan pelukan itu. Tiba-tiba aku membalas pelukan itu. Aku benar-benar yakin.. Rangga menyayangiku sebagai pacarnya. Aku juga sayang sama kamu, Ga. Ucapku dalam hati kemudian tersenyum.


No matter how far the journey,

No matter how dark the days,

No matter how long the time,

I know,

I always know,

You’ll love me till the end...

Learn more »

Karena cinta dunia maya, tak butuh LOGIKA


"Cinta bisa berada dimanasaja. Bahkan di dunia maya, tempat yang kadang tidak diperlukan logika untuk melogiskannya." - Karena cinta dunia maya, tak butuh LOGIKA



Aku tahu sejak awal bahwa cinta kita langka. Cinta yang jatuh sempurna pada titik yang tak diduga. Cinta yang tercipta dari setiap karakter tulisan yang terbaca. Cinta yang menjelma menjadi nyata dan menggerogoti aku dan kamu, kita.

Apakah ini bisa disebut cinta? Saat hanya namamu selalu kueja dalam hatiku, walaupun aku belum pernah memandang matamu. Apakah ini bisa disebut cinta? Saat aku merindukanmu, walaupun jemari kita belum saling menggenggam hingga detik ini. Apakah ini bisa disebut cinta? Saat frekuensi suara tangismu mengalir melalui mahluk tak berdenyut arteri bernama handphone itu.

Seberapa pentingkah perjumpaan nyata buatmu? Aku hanya bisa mereka-reka, seberapa dalam perasaanmu padaku. Aku hanya bisa mengira-ngira, seberapa dalamkah virus yang kita sebut cinta itu menggerogoti hati dan pikiranmu. Yang aku tahu, cerita kita ada, walaupun begitu langka.

Mereka mengatakan bahwa perjumpaan nyata itu penting dan harus. Ya, karena tidak mungkin kita hanya bertahan pada suara lembut yang menggugat sepi dan huruf-huruf yang terangkai manis itu. Mereka bilang dunia maya itu abstrak, semua yang berada di dalamnya selalu dipertanyakan kenyataannya. Tapi, bukankah cinta itu bisa datang darimana saja, bahkan dari jejaring sosial yang terlihat sepele dan mengenaskan itu.

Kita memang tak bisa memungkiri keadaan. Ada sekat jarak ratusan kilometer yang membatasi aku dan kamu. Ada gemerisik rindu yang berteriak keras; jelas dalam hatiku untuk segera menemuimu, merasakan sinar matamu, dan hangat jemarimu saat menggenggam celah-celah jemariku.

Walaupun kamu jauh, aku tetap bisa menyentuhmu melalui doa. Walaupun kamu jauh, aku tetap bisa merasakan rindu yang begitu hebat mengobrak-abrik isi otakku sehingga bayanganmu semakin melebar dan membesar. Walaupun kamu jauh, kita tetap dapat melihat bulan yang sama, sayangnya aku dan kamu menatapnya dari tempat yang berbeda.

Persiapkan dirimu saat perjumpaan nyata nanti. Akan aku ceritakan padamu bahwa cinta tak selalu melalui pandangan mata, cinta tak selalu ada karena perkenalan lama, cinta tak selalu tercipta karena perawakan nyata, cinta bisa berada dimanasaja. Bahkan di dunia maya, tempat yang kadang tidak diperlukan logika untuk melogiskannya.


- DWITASARI -
Learn more »

Obsesi yang Ku Bawa Sampai Mati


"Aku kunang-kunang dan dia senja. Aku terang, dia gelap. Aku hangat, dia dingin. Aku terlena, dia memesona. Aku diam, dia bisu. Aku tanda tanya, dia jawabnya."


Aku adalah kunang-kunang
Dalam gelap aku terbang, dalam gelap aku terang 
Dan jadilah kau senja. karena gelap kau ada, 
Karena gelap kau indah
Aku hanyalah kunang-kunang dan engkau hanyalah senja
Saat gelap kita berbagi
Saat gelap kita abadi



Ini suratku yang ke-18. Dengan tololnya aku menyelipkan surat ini ke dalam buku yang begitu ia cintai, buku sejarah. Mengendap-endap aku berjalan menuju mejanya, tersenyum kecil walau hatiku menyimpan tangis. Aku gemetar dan mimisan. Berlari menuju kamar mandi sambil menahan sakitnya.

Dia. Sebut saja senja. Gelap, dingin, dan memesona. Aku mencintainya lebih dari cinta Romeo yang menjadikannya tersakiti lalu mati. Aku menggilainya lebih dari gilanya pasien rumah sakit jiwa yang dirantai dan didera. Ini gila, di luar logika, tapi aku suka.


Sudah lama aku menyimpannya, tapi dengan kenyataan yang sama, aku tidak pernah berani untuk menunjukannya. Aku memilih diam dan menatapnya dari sini, jarak dan tempat yang tak akan pernah dia ketahui. Apa perasaan cinta harus ditunjukkan? Apakah perasaan yang aku simpan telah lama ini harus meluap dan menggenang? Menghujani hadirnya yang selalu membawa "kemarau" dalam hatiku? Atau hanya untuk sekadar membanjiri perasaannya yang selalu "kering"?

Aku kunang-kunang dan dia senja. Aku terang, dia gelap. Aku hangat, dia dingin. Aku terlena, dia memesona. Aku diam, dia bisu. Aku tanda tanya, dia jawabnya.

Rambutku semakin rontok, aku tak mampu lagi menelan makanan bahkan berbicara sekalipun. Jari-jariku melemah, kakiku tak mampu lagi berjalan. Ini suratku yang ke-19. Aku sampaikan pada kakakku untuk segera menyampaikan pada "senja" secara langsung. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang ingin menerangi gelapnya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang terlena akan pesonanya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang hingga terangnya meredup tapi dia masih ingin menjadi sesuatu yang akan senja suka, senja tahu, dan senja cinta.

Ini suratku yang pertama untuk Tuhan. Terima kasih karena DIA telah mencintaiku selama ini. Terima kasih atas umur yang DIA berikan padaku. DIA mencintaiku sejak aku tercipta, bahkan sampai aku kembali lagi ke pangkuanNYA. Kini, aku bisa merasakan peluk hangatNYA dan melihat senyum manisNYA.


Dan, senja. Bagaimana dengan dia? Aku bisa terus memerhatikannya dari sini. Bahkan, saat dia membaca suratku yang ke-19, dia menjatuhkan bulir-bulir air matanya, itu kali pertama aku melihatnya menangis. Hey, Senja. Bisakah kau tidak menangisiku? Walau aku dan kamu tak bisa saling bersentuhan, tapi aku masih bisa mencintaimu dari sini, jarak dan tempat yang mungkin tak kau ketahui.
Learn more »

Tolong Buat Aku Lupa

Jelaskan padaku mengapa semua jadi serumit ini? Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku, hingga memenuhi relung-relung hatiku. Semua terjadi begitu cepat, tanpa teori dan banyak basa-basi. Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu. Sesederhana itulah kamu mulai mengusai hari-hariku. Kamu jadi penyebab rasa semangatku. Kamu menjelma jadi senyum yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Iya, mungkin, aku jatuh cinta. Entah kamu.

Semua kulakuan diam-diam. Begitu rapi. Hingga hatimu yang beku tak pernah berhasil cair. Semua kusembunyikan. Hingga perasaanmu yang tidak peka tetap saja tak peduli pada gerak-gerikku yang jarang tertangkap oleh sorot matamu. Aku pandai menyembunyikan banyak hal hingga kautak memahami yang sebenarnya terjadi.

Aku tidak bisa melupakanmu.... sungguh! Aku selalu ingat caramu menatapku. Caramu mencuri perhatianku. Kerutan matamu yang aneh, namun tetap terlihat memesona dalam pandanganku. Hal-hal sederhana itu seakan-akan sengaja diciptakan untuk tidak dilupakan. Tolong buat aku lupa, karena aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.

Kita jarang punya kesempatan berbicara, berdua saja. Rasanya mustahil. Kamu dan aku berbeda, air dan api, dingin dan panas. Tapi, aku selalu ingat perkataanmu, "Hal yang mustahil di dunia ini hanyalah memakan kepala sendiri." Aku tersenyum ketika barisan kalimat itu kaukirimkan untukku. Iya, harusnya aku tak perlu sesenang itu, karena mungkin kamu menulisnya tanpa perasaan, hanya untuk merespon perkataanku saja.

Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu. Kamu sangat sulit kutebak, kamu teka-teki yang punya banyak jawaban, juga banyak tafsiran. Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kautunjukkan padaku. Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang mungkin saja tak hanya kaukatakan untukku. Aku takut memercayai perhatian sederhanamu yang kauperlihatkan secara terselubung. Aku takut. Aku takut. Takut. Semakin takut jika perasaan ini bertumbuh ke arah yang tak kuinginkan. Tolong hentikan langkahku, jika memang segalanya yang kuduga benar adalah hal yang salah di matamu. Tolong kembalikan aku ke jalanku dulu, sebelum aku mengganggu rute tujuanmu.

Ketahuilah, Tampan. Aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang mulai mengepul otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara; kamu seakan-akan nyata. Aku tak percaya, ternyata kita bisa melangkah sejauh ini. Dan, selama ini juga, aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin mengagetkanmu; aku mulai menyukaimu.

di antara rindu yang selalu gagal kuungkapkan
di dalam rasa canggung yang belum kupahami
tolong... jangan pergi.
Learn more »

Setelah Kita Putus


            “Aku bisa sendiri.” aku menghempaskan tangannya dengan kasar ketika ia mencoba membersihkan ice cream di bibirku.
            Ia terdiam, aku sibuk menyesap benda manis yang sejak tadi menggodaku.
            “Kita udah beda, gak sama, semua gak bisa diubah seperti dulu lagi.”
            Tatapannya dingin, masih memojokkanku dengan raut wajahnya yang menyebalkan.
            “Kenapa ngajak ketemuan lagi?” tanyaku panas dan sinis. “Belum cukup sama yang kamu lakukan selama ini?”
            Ia menatapku dengan tatapan memelas, aku menangkap sinyal kesalahan di matanya. Tapi, aku tak peduli, rasa kasihanku telah habis untuknya. Aku muak menatapnya, pertemuan ini tak akan terjadi jika dia tak bersungut-sungut seperti di telepon tadi.
            “Aku mau meminta maaf.” ucapnya lugu namun penuh rayu. “Aku bersalah.”
            “Baru sadar sekarang? Kemarin kemana aja, tolol!”
            “Aku menyesal. Aku menyesal. Aku menyesal.”
            “Tiga kali ada kata menyesal.”
            “Aku menyesal!”
            “Empat kali.”
            “Kesha…” ia memanggil namaku lembut, aku tak bisa menahan tatapanku agar tak menyorot matanya.
            “Apa?”
            “Maafin aku.”
            “Aku udah maafin kamu bahkan sebelum kamu minta maaf.”
            “Sungguh?”
            Aku mengangguk tanpa pikir panjang, tak ingin percakapan ini berlangsung dengan lamban. Aku ingin semuanya berakhir. Dan, semoga wajah busuk ini tak lagi kutatap.
            “Aku menyesal, Kesha.”
            “Lima kali, cukup. Aku bosan dengar kata menyesal jika kamu sendiri tak pernah mencoba untuk berubah.”
            “Aku harus berbuat apa agar kamu benar-benar ikhlas memaafkanku?”
            “Tidak perlu, semuanya sudah lewat, aku enggak perlu ingat-ingat yang lalu. Semuanya sampah!”
            Nada bicaraku mendiamkan gerak bibirnya, ia menatapku dengan tatapan minta dikasihani.
            “Jangan menatapku dengan tatapan tolol seperti itu, rasa kasihanku sudah habis terhadapmu, bodoh!”
            Ia tak banyak bicara, hanya mendengarkan aku yang terus saja mengumpatnya dan memakinya. Tiba-tiba perasaan kesal itu muncul lagi, bayang-bayang pahit itu kembali berserakan. Aku tak bisa menahan diriku untuk tak memikirkan peristiwa itu. Saat aku mendapati dirinya berciuman dengan seorang gadis di sebuah prakiran trade center daerah Jakarta Selatan. Aku ingin semuanya berlalu dan hilang seperti angin. Sungguh, aku tak ingin mengingat cara dia menyakiti dan mengkhianatiku, tapi aku terlalu lemah.
            Aku tak bisa menyangkal diri, bahwa aku benar-benar mencintainya, dia sudah menjadi bagian dari napasku selama beberapa tahun terakhir. Aku tak mungkin bisa melupakan seseorang yang telah mengisi hari-hariku dengan begitu cepat. Aku butuh waktu. Tapi, semua di luar prediksiku, saat aku ingin melupakannya, dia malah hadir. Berkata maaf, mengucap kata menyesal, dan segala kalimat yang mampu mencairkan hatiku yang sudah sangat beku.
            Aku hanya bisa membohongi diriku sendiri. Memakinya, mencemoohnya, dan menghujaninya dengan kata-kata kasar, namun sebenarnya aku tersiksa. Aku tak bisa menyakiti seseorang yang kucintai, aku lelah terus-menerus menyangkal diri sendiri. Aku mencoba menyadarkan pikiranku yang sempat goyah, kembali meletakkan akal sehatku pada kenyataanyan yang ada. Aku tak mungkin lagi menerimanya kembali, sekeras apapun dia memintaa maaf padaku. Meskipun dia harus meradang, meronta, atau berlutut di hadapanku.
            Setelah lama kudiamkan, dia menangis. Seluruh mata pengunjung restaurant bergeser ke arah kami. Ini air mata pertamanya yang pernah kulihat, bertahun-tahun ia tak pernah menangis di hadapanku. Apakah ini juga bagian dari kebohongan?
            “Sudahlah, Kevin. Aku bukan gadis tolol yang bisa kaupermainkan lagi. Jauh-jauh dari pandanganku, atau perlu menghilanglah dari muka bumi ini!”
            “Aku akan menghilang tanpa kau minta, Kesha.”
            “Baguslah, sadar diri!”
            “Dan, tidak akan pernah kembali.”
            “Itu lebih bagus, selamanya kalau perlu!”
            “Iya, selamanya.”
            Dia mengulang kata ‘selamanya’ dengan tatapan yang bodoh disertai mata yang sembab. Aku tak ingin membuang-buang waktuku. Aku membayar ice cream dengan uangku sendiri, meninggalkan Kevin yang masih menggigil karena perkataanku.
            Mampus kau! Seruku dalam hati. Aku tertawa senang. Aku berhasil menyakitinya. Aku tak menyesal berpisah dengannya. Oh, Tuhan, jadi ini rasanya bahagia?
            Sempurna!
***
            Tak ada lagi komunikasi dengan Kevin. Aku tak pernah mau tahu lagi kabarnya. Telingaku tak ingin lagi mendengar namanya.
            Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Aku bahkan berprestasi dalam banyak hal, tak peduli pada masa lalu yang sempat membayangiku selama ini. Tapi, aku memang tak mampu menyangkal, wajah Kevin masih saja hadir dalam malam-malam sepi ketika aku sedang mendengar lagu favorite kita dulu. Have I Told You Lately That I Love You, Rod Stewart selalu pandai membawakan lagu ini dengan suara yang mendayu-dayu namun menggemaskan. Memang benar, sebuah lagu mampu melempar seseorang kembali ke masa lalunya, dan aku selalu mengalami hal itu, lagi dan lagi.
            Entah mengapa, hari-hariku memang terasa lebih sepi. Aku sering iri melihat teman-temanku berjalan dengan kekasihnya, dan aku hanya berjalan sendirian. Yaaaaah, belajar mandiri, itulah dua kata yang membuatku bertahan sampai saat ini. Kevin, dulu, adalah pria yang baik, namun setelah mengenal wanita jalang itu, dia berubah drastis. Aku membencinya dan sepertinya perasaanku padanya berangsur-angsur mulai hilang.
            Siang ini, aku sudah bersiap-siap ke kampus. Belum sempat membuka pintu kamar, ponselku berdering nyaring.
            Aku menatap ke layar ponsel, nomor tak dikenal. Sebenarnya, aku tak ingin mengangkat panggilan tersebut, tapi entah mengapa, rasanya panggilan tersebut sangat penting.
            “Halo…”
            “Halo… Kesha?”
            Terdengar suara wanita yang rasa-rasanya akrab di telinga.
            “Ini, Tante, Nak.”
            “Tante?”
            “Ibunya Kevin.”
            Deg. Aku lemas, rasanya sulit untuk membuka suara. Aku berusaha keras untuk menahan emosiku dan perasaanku yang mulai tak stabil.
            “Iya, kenapa, Tante?”
            “Mau nemenin Tante sebentar enggak?”
            “Ke mana?”
            “Ke suatu tempat, mungkin kamu suka?”
            Aku terdiam agak lama, berpikir dengan keras. Namun satu kata meluncur dari bibirku, tanpa kuduga. “Oke.”
***
            “Sebenernya Tante udah lama pengen ajak kamu ke sana.”
            Aku masih bingung, tak mengerti arah tujuan. Di mobil aku hanya mengangguk-angguk pelan, tak mengerti pada pembicaraannya yang ngalor-ngidul.
            “Kita mau kemana, Tante?”
            “Nanti, kamu juga tahu sendiri.”
            Jawaban tersebut sama sekali tak membuat diriku puas. Kami melewati padang ilalang dan hamparan rumput yang menghijau. Tanah yang terlihat cukup gersang namun untungnya cuaca hari itu tak begitu panas. Beberapa menit kemudian, Ibu Kevin menggunakan kaca mata hitam dan kerundung berwarna hitam. Ia mengeluarkan kembang tujuh rupa. Aku bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?
            Mobil berhenti, dan rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi. Kami berjalan melewati tanah yang gersang tadi, dan sejauh mata memandang ada beberapa nisan yang terlihat. Aku baru tahu di tempat seindah ini ada pemakaman.
            Beliau menuntunku terus berjalan, kemudian berhenti di sebuah nisan. Aku tak memerhatikan dengan jelas tulisan di nisan itu, aku hanya menatap wajah wanita yang sejak tadi genggaman tangannya semakin erat di jemariku.
            Wanita itu sedikit berjongkok, aku ikut berjongkok.
            “Sudah dua bulan, Kesha.”
            Aku masih diam, dan mendengarkan, karena mungkin saja mendengarkan bisa memberiku jawaban.
            “Dia pergi, sesuai permintaanmu.”
            Dia siapa? Aku tak mengerti, aku masih menyimak perkataan wanita ini dengan santun dan tegas.
            “Kevin sakit, dia selalu sembunyikan penyakitnya darimu.”
            Oh, jadi Kevin sakit? Dirawat di mana dia sekarang? Baguslah, itu karma untuknya, karena telah menyakitiku.
            “Kamu dan Kevin sudah pacaran beberapa tahun.”
            Duh, sialan, mengungkit masa lalu. Masa yang tak pernah ingin kuingat. Sialan.
            “Kevin tahu kamu sangat mencintainya, makanya ia tak ingin kepergiannya menyakitimu.”
            Aku terdiam. Masih tak paham.
            “Ia menyewa seorang wanita, dan merencanakan segalanya yang rumit, membuat semuanya seakan-akan terjadi secara tidak sengaja.”
            Merencanakan?
            “Kevin mencium wanita itu dan kamu lewat di depan mobilnya. Momentum yang pas. Semuanya terjadi sesuai rencananya.”
            Tatapanku tajam menyapu wajah wanita itu, matanya tak terlalu terlihat, kacamata hitam memburamkan tatapannya.
            “Kevin sengaja menyakitimu agar kamu tak pernah menyesal ketika dia pergi. Itulah wujud yang sebenarnya, bahwa dia tak ingin melihatmu terluka. Dia masih mencintaimu.”
            Omong kosong! Teriakku dalam hati.
            “Dia baik sekali, Kesha. Dan kau tak menyadari bahwa pertemuan terakhir kalian adalah saat kau memakinya.”
            Jutaan panah seperti melesat ke jantungku. Aku tak bisa bernapas.
            Aku menatap nisan itu. Ada namanya. Nama pria yang selama ini sempat memutarbalikkan duniaku. Kevin.
            “Perjuangannya memang tidak sia-sia, kau tidak terlihat terluka dan menyesal. Kevin berhasil menahan air matamu, Kesha. Lihatlah, kamu tidak menangis.”
            Aku terdiam, tak bisa berkomentar banyak. Bibirku terlalu kelu. Aku tak menyangka perjuangan Kevin begitu besar untukku.
            Napasku masih tercekat, dan sekarang aku tahu rasanya menangis.
            Air mata.
With love :)
By Dwitasari
Learn more »