HEADER

Showing posts with label fiksi. Show all posts

Arti Sebuah Kesempurnaan

Seorang lelaki yang sangat tampan dan sempurna merasa bahwa Tuhan pasti menciptakan seorang perempuan yg sangat cantik dan sempurna pula untuk jodohnya. Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya. Kemudian sampailah ia disebuah desa. Ia bertemu dengan seorang petani yg memiliki 3 anak perempuan dan semuanya sangat cantik. Lelaki tersebut menemui bapak petani dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya tapi bingung; mana yang paling sempurna.
Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu persatu dan si Lelaki setuju. Hari pertama ia pergi berduaan dengan anak pertama. Ketika pulang,ia berkata kepada bapak Petani,”Anak pertama bapak memiliki satu cacat kecil, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan.”
Hari berikutnya ia pergi dengan anak yang kedua dan ketika pulang dia berkata,”Anak kedua bapak juga punya cacat yang sebenarnya sangat kecil yaitu agak juling.”
Akhirnya pergilah ia dengan anak yang ketiga. Begitu pulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata,”inilah yang saya cari-cari. Ia benar-benar sempurna.”
Lalu menikahlah si Lelaki dgn anak ketiga Petani tersebut. Sembilan bulan kemudian si Istri melahirkan. dengan penuh kebahagian, si Lelaki menyaksikan kelahiran anak pertamanya. Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek. Ia menemui bapak Petani dan bertanya “Kenapa bisa terjadi seperti ini Pak. Anak bapak cantik dan saya Tampan, Kenapa anak saya bisa sejelek itu..?”"
Petani menjawab,” Ia mempunyai satu cacat kecil yang tidak kelihatan . Waktu itu Ia sudah hamil duluan…..”
Kadangkala saat kita mencari kesempurnaan, yang kita dapat kemudian kekecewaan. Tetapi kala kita siap dengan kekurangan, maka segala sesuatunya akan terasa istimewa.
Learn more »

Inikah Rasanya Jarak?


Jarak sejauh ini tak mampu membuat kita berbuat dan bergerak lebih banyak. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling  bersentuhan juga saling menatap. Rasanya menyakitkan jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak banyak bertemu. Setiap hari, kita menahan rindu yang semakin menggebu dan tak mereda. Inikah cara cinta menyiksa? Melalui jarak ratusan kilometer?

Aku menghela napas, membayangkan jika kamu bisa terus berada di sampingku dan merasakan yang juga kurasakan. Maka mungkin tak akan ada air mata ketika hanya tulisan dan suara yang bisa menguatkan kita. Maka tentu saja tak akan ada ucapan rindu berkali-kali yang terlontar dari bibir kita, ketika perasaan itu semakin membabibuta.

Apakah yang kita pertahankan selama ini? Apakah yang kita andalkan sejauh ini? Sekuat apakah perasaan cinta kita? Menahan dan mempertahankan, dan kadangkala memicu pertengkaran. Tapi... itulah manisnya jarak, ia membuat kita saling menyadari, tak ada cinta tanpa luka, tak ada cinta tanpa rindu.

Sayang, apalah arti ratusan kilometer jika kita masih mengeja nama yang sama? Apakah arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin mempertahankan semuanya? Kita jarang saling bergenggaman tangan, jarang sekali berpelukan, dan sangat jarang saling berpandangan. Namun, percayalah sayang, tak saling bersentuhan bukan berarti cinta kita punya banyak kekurangan.

Apa yang kucari dan apa yang kamu cari? Tak ada, kita masih meraba-raba apa itu cinta dan bagaimana kekuatan itu bisa membuat kita bertahan. Rasa cemburu, rasa ragu, dan rasa rindu sebenarnya adalah pemanis. Tidak ada hal yang sangat berat, jika kita melalui berdua melewatinya bersama.

Selama bulan yang kita lihat masih sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuanku dan kamu masih akan tetap terjadi.

Jarak hanyalah sekadar angka, jika kita masih memperjuangkan cinta yang sama.

Learn more »

20 Ribu Rupiah

Tips Survive dengan Rp20 ribu dalam Waktu Seminggu



1.Warteg
Kalo lagi bokek, nggak usah BM yang aneh-aneh. Inget, lagi bokek! Nggak usah ngarep ada di depan sushi bar dengan duit Rp20 ribu. Hadapi kenyataan, langkahkan kakimu dengan pasti menuju warteg terdekat. Minta nasi agak banyak, tunjuklah tempe atau tahu, lalu siram dengan kuah-kuahan yang ada. Kasih selembar lima ribuan, pasti ada kembalinya. Hemat, kan?
2. Pesen Teh Tawar/Air Putih
Mentang-mentang bokek trus pesen makan tapi nggak pesen minum. Itu goblok namanya. Nggak perlu yang mahal-mahal, kok. Pesen aja teh tawar anget, paling cuma Rp500. Atau mau yang gratis? Minta air putih!
3. Sedia Mie Instan
Ini wajib hukumnya buat kaum yang sering dilanda bokek. Dari Rp20 ribu, sisihkan Rp5000 buat nyetok mie instan. Lumayan dapet 3 bungkus. Bisa lah buat tiga hari. Empat harinya gimana? Baca poin 1 dan 2!
4. Puasa Senin-Kamis
Selain bisa berhemat, insya Allah kamu juga dapet pahala. Amin. Biar lebih hemat lagi, pas buka puasa kamu cari temen yang lagi ulang taun. Mintalah traktiran padanya.
5. Diem Aja di Rumah
Kalo lagi bokek, nggak usah banyak gaya. Punya duit Rp20 ribu aja belagu. Udah, diem aja di rumah seminggu. Pasang muka melas biar mama papa kamu kasian ngeliat kamu dan tergerak ngasih kamu uang.

Ada yang pernah punya pengalaman survive selama seminggu dengan Rp20 ribu? Coba dibagi pengalamannya..
Learn more »

Awal-Awal Penyebab Jadian



Kalo nginget-nginget rasanya baru jadian, senengnya udah kaya dapet tiket tur ke eropa gratis.. Apalagi kalo lagi nonton sinetron FTV yang tiap hari jadian mulu, jadiannya di luar kota terus lagi.. Hmmm idup kayanya enak banget. Tapi seblom kita jadian sama pacar kita, ada tahap-tahapan sebelumnya tuh.

Biasanya di sekolah atau kampus ada momen-momen yang bisa bikin kita deket sama gebetan. Contohnya aja kalo lagi ada studi tur atau karya wisata, rasanya hasrat pergebetan makin menggebu-gebu, bawaannya pengen nempelin si gebetan kemana aja dia pergi, kalo liat dia senyum, kamu langsung meleleh. Pas liat dia duduk sebelahan ama yang lain aja kamu udah cemburu. Disitu akhirnya kamu makin agresif, ya ujung-ujungnya nembak deh.

Selain itu, ada juga belajar kelompok. Dari satu hari belajar bareng, sampe akhirnya doyan, ketemu-ketemu, lama-lama naksir. Diliat-liat lama-lama lucu juga.. akhirnya mulai bikin belajar kelompok terselubung, berdua doang! Heemmm!.. Biar bisa lebih intens ketemunya gitu..Abis itu mulai telpon-telponan, lama-lama jadian juga. Alhamdulilah..

Ada juga yang gara-gara tinggalnya deketan, terus yang cowok suka boncengin cewenya, lama-lama dari nebeng doang, akhirnya jadi supir pribadi alias pacaran beneran deh..

Bisa juga karena duduknya sebelahan, dari toyor-toyoran, suka brantem, lama-lama ehhhh malah jadi suka. Tiap hari ktemu, kalo ada satu yang gak dateng jadi sepi. Terus kangen deh sama si gebetan yang duduk di sebelah. Akhirnya malah saling gebet deh.

Ada juga yang jadiannya Antar-sekolah , bisa aja ktemu pas acara olahraga antar sekolah, atau pensi, dikenalin temen, terus lanjut deh..

Nah, kalo kalian bisa sampe jadian gara-gara gimana tuh?? Ini pertanyaan buat yang punya-punya pacar aja ya...
Learn more »

Cinta itu dijual nggak ya?


Cinta, Mengapa ? Kau Selalu membuat ku Galau



 By Favim.com
Ilusi digital ini membutakan semua. Mereka sebut itu dunia maya, dunia para pecundang bisa berkata dengan bebas, dunia dimana para orang bisu bisa berbicara lantang, dunia dimana mereka yang selalu merasa sendiri bisa terus merasa nyaman dan membuat - membuat dan mengada - ngada status percintaan.

Sosial media, disanalah mereka muncul. Mereka yang di dunia nyata merasa terpuruk akan cinta, seolah - olah bangkit dan mengobral diri atas status kesendirian yang mereka anggap menyedihkan. ” Iniloh gue !, gue benci kesendirian dan gue masih lajang “. Mereka mengobral diri mereka, seakan - akan Tuhan itu tidak ada. Mereka tidak percaya akan janji tuhan yang mengatakan ” Semua mahkluk hidup di ciptakan berpasangan. Mengapa harus resah?, mengapa membuat cinta seakan - akan sesuatu yang memang di jual laris ?. Mengapa harus membeli dan resah mencari ? jika nyatanya Tuhan sudah memberikanya, bahkan seseorang yang akan mengubah status mu mungkin sudah di persiapkan tuhan untuk menenami mu dimasa depan.

Cinta, Mengapa ?

Mereka menjual. Ya mengobral janji yang kini bahkan sudah tidak lagi di anggap hutang. Drama realita kehidupan di negeri ini hanya berisi perselingkuhan, Janji palsu, cinta segitiga, cinta segiempat, cinta jajar genjang terserahlah apa namany .Cinta yang ditunjukan melakukan apa sepertinya dan dipertaruhkan demi memperoleh buaian mimpi ala sinetron,

Para petinggi di negeri ini senang sekali berjanji, tapi sedikit bahkan tidak ada yang bisa menempati. Mereka mengaku cinta tanah air, tapi ketika sudah duduk di tempat tertinggi mereka justru lebih banyak menuntut ” Apa yang bisa diberikan tanah air tercinta ini untuk saya ? ” mereka tidak pernah berbuat apa apa pun. Bahkan berpikir “Apa yang bisa saya berikan untuk negeri tercinta ini “.
anggota-dpr-tidur2
Para generasi muda, menjadikan cinta sebagai ajang coba - coba,sehina inikah?. Seperti inikah cinta yang katanya indah itu ?. Cinta yang membuat 60% gadis SMA sudah kehilangan kehormatannya ?, Cinta yang membuat 1 orang setiap hari, jam bahkan detik tewas karena HIV ?.

Berfikirkah kita bahwa Cinta bukanlah barang dagangan yang laris untuk dijual ?.

Berfikirkah kita bahwa diri kita bukanlah negara tertindas yang bisa dijajah dan dirusak oleh negara lain ?

Berfikirkah kita bahwa Status sendiri bukanlah sesuatu yang memalukan ?

Malukah kita bersedih - sedih dan mengemis Cinta di dunia maya ?

Pernahkah kita berfikir apa pun ? selain Cinta ?, Selain Status ? dan apa pun yang membuat kita sadar bahwa cinta bukanlah sesuatu yang pantas dipermainkan ?!.

“Sesungguhnya cinta bukanlah harta, hubungan dan kesenangan semata. Tetapi Cinta adalah Pengorbanan, tanggung jawab , pengertian ,pengabdian, kasih sayang untuk saling menjaga dan sebuah Rasa yang membuat kita semangat dan merasa lebih bermakna dalam menjalani kehidupan”



Sorry, Love Is Not For Sell !! Simpan saja cintamu berikan pada dia yang kau tunggu..

- GALAU.BLOGDETIK.COM -

Learn more »

Karena cinta dunia maya, tak butuh LOGIKA


"Cinta bisa berada dimanasaja. Bahkan di dunia maya, tempat yang kadang tidak diperlukan logika untuk melogiskannya." - Karena cinta dunia maya, tak butuh LOGIKA



Aku tahu sejak awal bahwa cinta kita langka. Cinta yang jatuh sempurna pada titik yang tak diduga. Cinta yang tercipta dari setiap karakter tulisan yang terbaca. Cinta yang menjelma menjadi nyata dan menggerogoti aku dan kamu, kita.

Apakah ini bisa disebut cinta? Saat hanya namamu selalu kueja dalam hatiku, walaupun aku belum pernah memandang matamu. Apakah ini bisa disebut cinta? Saat aku merindukanmu, walaupun jemari kita belum saling menggenggam hingga detik ini. Apakah ini bisa disebut cinta? Saat frekuensi suara tangismu mengalir melalui mahluk tak berdenyut arteri bernama handphone itu.

Seberapa pentingkah perjumpaan nyata buatmu? Aku hanya bisa mereka-reka, seberapa dalam perasaanmu padaku. Aku hanya bisa mengira-ngira, seberapa dalamkah virus yang kita sebut cinta itu menggerogoti hati dan pikiranmu. Yang aku tahu, cerita kita ada, walaupun begitu langka.

Mereka mengatakan bahwa perjumpaan nyata itu penting dan harus. Ya, karena tidak mungkin kita hanya bertahan pada suara lembut yang menggugat sepi dan huruf-huruf yang terangkai manis itu. Mereka bilang dunia maya itu abstrak, semua yang berada di dalamnya selalu dipertanyakan kenyataannya. Tapi, bukankah cinta itu bisa datang darimana saja, bahkan dari jejaring sosial yang terlihat sepele dan mengenaskan itu.

Kita memang tak bisa memungkiri keadaan. Ada sekat jarak ratusan kilometer yang membatasi aku dan kamu. Ada gemerisik rindu yang berteriak keras; jelas dalam hatiku untuk segera menemuimu, merasakan sinar matamu, dan hangat jemarimu saat menggenggam celah-celah jemariku.

Walaupun kamu jauh, aku tetap bisa menyentuhmu melalui doa. Walaupun kamu jauh, aku tetap bisa merasakan rindu yang begitu hebat mengobrak-abrik isi otakku sehingga bayanganmu semakin melebar dan membesar. Walaupun kamu jauh, kita tetap dapat melihat bulan yang sama, sayangnya aku dan kamu menatapnya dari tempat yang berbeda.

Persiapkan dirimu saat perjumpaan nyata nanti. Akan aku ceritakan padamu bahwa cinta tak selalu melalui pandangan mata, cinta tak selalu ada karena perkenalan lama, cinta tak selalu tercipta karena perawakan nyata, cinta bisa berada dimanasaja. Bahkan di dunia maya, tempat yang kadang tidak diperlukan logika untuk melogiskannya.


- DWITASARI -
Learn more »

Obsesi yang Ku Bawa Sampai Mati


"Aku kunang-kunang dan dia senja. Aku terang, dia gelap. Aku hangat, dia dingin. Aku terlena, dia memesona. Aku diam, dia bisu. Aku tanda tanya, dia jawabnya."


Aku adalah kunang-kunang
Dalam gelap aku terbang, dalam gelap aku terang 
Dan jadilah kau senja. karena gelap kau ada, 
Karena gelap kau indah
Aku hanyalah kunang-kunang dan engkau hanyalah senja
Saat gelap kita berbagi
Saat gelap kita abadi



Ini suratku yang ke-18. Dengan tololnya aku menyelipkan surat ini ke dalam buku yang begitu ia cintai, buku sejarah. Mengendap-endap aku berjalan menuju mejanya, tersenyum kecil walau hatiku menyimpan tangis. Aku gemetar dan mimisan. Berlari menuju kamar mandi sambil menahan sakitnya.

Dia. Sebut saja senja. Gelap, dingin, dan memesona. Aku mencintainya lebih dari cinta Romeo yang menjadikannya tersakiti lalu mati. Aku menggilainya lebih dari gilanya pasien rumah sakit jiwa yang dirantai dan didera. Ini gila, di luar logika, tapi aku suka.


Sudah lama aku menyimpannya, tapi dengan kenyataan yang sama, aku tidak pernah berani untuk menunjukannya. Aku memilih diam dan menatapnya dari sini, jarak dan tempat yang tak akan pernah dia ketahui. Apa perasaan cinta harus ditunjukkan? Apakah perasaan yang aku simpan telah lama ini harus meluap dan menggenang? Menghujani hadirnya yang selalu membawa "kemarau" dalam hatiku? Atau hanya untuk sekadar membanjiri perasaannya yang selalu "kering"?

Aku kunang-kunang dan dia senja. Aku terang, dia gelap. Aku hangat, dia dingin. Aku terlena, dia memesona. Aku diam, dia bisu. Aku tanda tanya, dia jawabnya.

Rambutku semakin rontok, aku tak mampu lagi menelan makanan bahkan berbicara sekalipun. Jari-jariku melemah, kakiku tak mampu lagi berjalan. Ini suratku yang ke-19. Aku sampaikan pada kakakku untuk segera menyampaikan pada "senja" secara langsung. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang ingin menerangi gelapnya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang terlena akan pesonanya. Sampaikan pada senja bahwa ada kunang-kunang yang hingga terangnya meredup tapi dia masih ingin menjadi sesuatu yang akan senja suka, senja tahu, dan senja cinta.

Ini suratku yang pertama untuk Tuhan. Terima kasih karena DIA telah mencintaiku selama ini. Terima kasih atas umur yang DIA berikan padaku. DIA mencintaiku sejak aku tercipta, bahkan sampai aku kembali lagi ke pangkuanNYA. Kini, aku bisa merasakan peluk hangatNYA dan melihat senyum manisNYA.


Dan, senja. Bagaimana dengan dia? Aku bisa terus memerhatikannya dari sini. Bahkan, saat dia membaca suratku yang ke-19, dia menjatuhkan bulir-bulir air matanya, itu kali pertama aku melihatnya menangis. Hey, Senja. Bisakah kau tidak menangisiku? Walau aku dan kamu tak bisa saling bersentuhan, tapi aku masih bisa mencintaimu dari sini, jarak dan tempat yang mungkin tak kau ketahui.
Learn more »

Kepada Kamu dengan Penuh Tanya


Siapa kamu?
Ah, kamu terlalu absurd untuk kulogiskan
Kamu terlalu rumit untuk dijelaskan
Kehadiranmu
Kepergianmu
Tak pernah kulupakan kronologisnya

Malam ini
Bahkan saat kau tak menyapaku
Bahkan ketika kau tak lagi menjadi sebab dari senyumku
Ternyata aku masih diam-diam menunggumu

Kita
Hanya sebagian kecil
Kita
Hanya secuil rencana kecil Tuhan
Aku dan kamu
Menjadi bagian sempurna dalam lingkup sederhana bernama cinta

Kepada kamu dengan penuh tanya
Sebenarnya apa yang kita harapkan dari perasaan ini?
Apakah kau hanya mimpi di siang bolong?
Apakah mungkin kau hanya segelintir lembayung yang menemani senja?
Atau kamu hanya rindu yang terhisap kangen tadi malan?

Berikan aku jawaban, Sayang
Aku benci dalam keadaan tak tahu apa-apa sama sekali
Aku benci ketika hanya bisa mencintaimu dalam diam
Katakan padaku apa yang harus kulakukan?
Aku bosan
Aku sangat bosan disiksa seperti ini, Sayang!
Berikan aku jawaban
Atau berikan aku tanda seru
Tapi, tolong jangan berikan aku tanda tanya!

Aku benci ketika harus deg-deg-an membaca tulisan yang dihasilkan jemarimu
Aku benci harus diam-diam mencintaimu
Aku benci menunggu
Aku sangat benci menjadi alat permainanmu

Polewali, 5 Februari 2013
"Rindu memang tak pernah butuh tanya, dia hanya butuh sedikit keberanian dan pengungakapan. Sederhana "
Learn more »

Cintaku, Cintamu, Beda!

Saya hanya mampu menepuk bahunya berkali-kali dan hanya mampu mengucapkan kata “sabar”. Matanya sudah bengkak, wajahnya tak lagi bersinar seperti saat ia baru datang untuk menceritakan segalanya pada saya. Raut wajah itu menggambarkan luka yang tidak dapat lagi dibahasakan melalui frasa-frasa kata. Dan, melalui ceritanya; baru kali ini saya bisa merasakan, sakitnya mencintai hanya karena dibatasi oleh perbedaan.

Padahal, wanita ini punya alasan untuk selalu tersenyum dan bahagia. Wajahnya bagaikan pahatan sempurna jemari Tuhan, percampuran darah Jawa dan Padang. Zodiaknya Leo, saya percaya dia wanita yang tangguh. Boleh dibilang selain tangguh, dia juga nekad, begitu saja meninggalkan kota Padang demi mengejar cita-citanya untuk menjadi penari. Dia sangat jatuh cinta pada dunia tari. Tari layaknya napas yang mendenyutkan peredaran darahnya hingga saat ini. Ia berasal dari keluarga yang sangat menyayanginya, menjadi anak ketiga dari empat bersaudara adalah cara Tuhan mengajarinya banyak hal, salah satunya - CINTA!

Berbagai peristiwa membuka matanya, sampai pada akhirnya ia bertemu seorang pria; pria yang mengajarinya banyak hal dengan cara yang tak biasa. Mereka saling bertatapan ketika wanita ini sedang berusaha meredam rasa demam panggungnya sebelum pentas tari. Pertemuan mereka tidak terencana, seakan-akan dunia sengaja berkonspirasi untuk menjebak mereka dalam sebuah ilusi nyata, lalu terciptalah pertemuan absurd. Sulit dijelaskan, bagaimana pertemuan nyata bisa mengubah cara pandang seseorang. Dan, ternyata tanpa mereka minta, jemari hangat cinta telah meremas hati mereka yang beku. Cinta datang dengan tiba-tiba, senyata-nyatanya, seada-adanya... begitu saja.

Pria ini adalah seorang juru masak, dan wanita yang kudengarkan ceritanya tadi sangat jatuh cinta pada setiap masakan yang dihasilkan jemari sang pria. Cinta semakin mengambil alih, mereka sama-sama larut dalam kebahagiaan yang tak lagi terhitung. Hanya ada senyuman tulus yang mengalir dalam setiap detik kebersamaan mereka. Cinta telah membuat jiwa mereka seakan-akan berada di Taman Firdaus, tapi kenyataan hanya bisa membuat mereka seakan terusir dari keindahan dan kemegahan Taman Firdaus. Lagi dan lagi, karena perbedaan. Perbedaan macam apa yang bisa merenggut semua kebahagiaan seseorang?

Wanita ini sedang memanggil Tuhan, menyebut nama Tuhan seperti biasa, sambil melipat tangan dan salib Yesus yang melingkar di lehernya seakan turut meremas segala kecemasan yang bergumul dalam hatinya. Pria ini sedang bersujud, mengajak Tuhan berbicara dengan bahasa yang berbeda, terjadi percakapan sederhana dengan bulir air mata. Segalanya berbeda, tapi cinta membuatnya menyatu. Segalanya tak mungkin disatukan, tapi cinta membuat dua orang berjuang bahkan untuk hal yang mustahil sekalipun.

Awalnya, mereka memang masih berproses untuk menerima dan menormalkan segalanya agar tak terlihat seperti masalah besar. Perbedaan di antara mereka seringkali dijadikan bahan candaan, juga kadang dijadikan sebagai bahan perenungan.

“Menurut kamu, hubungan kita ini akan berakhir manis apa enggak?” tanya wanita ini, dengan wajah penasaran dan tatapan minta diberi penjelasan.

Lama sekali pria ini berpikir.  Ia tak mau terlihat rapuh di depan orang yang ia cintai. “Yakinlah berhasil. Karena pikiran kita akan menuntun pada keberhasilan itu,” ucap pria ini mantap.

“Tapi dalam sejarah, karena keyakinan kita berbeda membuat hubungan ini tidak mudah.” terdengar nada keraguan dari bibir sang wanita. “Pasti ada yang terluka. Padahal cinta harusnya membahagiakan.”

Bagi saya, mereka terlalu manis juga terlalu romantis. Di mata saya, mereka adalah sosok pasangan yang sangat kuat. Mereka berusaha membuktikan pada dunia bahwa mereka hanya jatuh cinta, bukan berzinah layaknya ungkapan orang-orang yang sok ahli dalam bidang agama. Perjuangan mereka menemukan banyak kerikil dan tikungan tajam, air mata dan tawa bergantian menggores bibir. Dan, cinta... membuat mereka percaya, tak ada yang sia-sia jika mereka masih ingin berusaha.
                                                                                                                   
Dalam canda, wanita ini sering menggoda sang pria. “Kamu harus bisa masakin keluargaku babi rica. Enak lho! Kamu harus mencoba”.

“Kalau kamu makan babi rica aku akan temani, tapi nggak akan aku memakan makanan itu”.
Seloroh pria itu dengan candaan yang tak kalah lucu. Dan, mereka tertawa lepas. Masih bisa tertawa bahkan dalam kekhawatiran mereka.

Semua masih bercerita tentang bahagia, bahagia, dan bahagia. Mereka masih bisa menertawakan perbedaan yang terjadi di antara mereka. Mereka tak ingin mengungkit luka yang sebenarnya perlahan-lahan sudah tergores; sejak mereka tahu perbedaan tak mudah untuk diperjuangkan.

Dan, apakah hanya untuk bahagia, mereka perlu meninggalkan Tuhan dan menutup telinga terhadap perkataan orang?

Untuk teman saya yang belum berani saya sebutkan namanya
Kuatlah, Teman...
Mereka yang di luar sana tak pernah tahu apa yang kaurasakan
Mereka mencibirmu, memakimu, dan menghakimimu
Karena mereka tak pernah tahu... siapa dirimu sebenarnya.
Learn more »

Menangisi dia

Mata yang bengkak
Bukti bahwa kau menangisi seseorang
yang penting dalam hidupmu

Wajah yang terlihat sembab
Bukti bahwa ada cinta
yang menyebabkan kamu terluka
lalu menangis
teriris

Cinta adalah pemujaan
maka bagaimana mungkin orang yang memujamu
akan menyakitimu?

Gunakan otakmu
Fungsikan hatimu
Pikirkan sekali lagi
Pantaskah kau menangisi dia?


Learn more »

Setelah Kita Putus


            “Aku bisa sendiri.” aku menghempaskan tangannya dengan kasar ketika ia mencoba membersihkan ice cream di bibirku.
            Ia terdiam, aku sibuk menyesap benda manis yang sejak tadi menggodaku.
            “Kita udah beda, gak sama, semua gak bisa diubah seperti dulu lagi.”
            Tatapannya dingin, masih memojokkanku dengan raut wajahnya yang menyebalkan.
            “Kenapa ngajak ketemuan lagi?” tanyaku panas dan sinis. “Belum cukup sama yang kamu lakukan selama ini?”
            Ia menatapku dengan tatapan memelas, aku menangkap sinyal kesalahan di matanya. Tapi, aku tak peduli, rasa kasihanku telah habis untuknya. Aku muak menatapnya, pertemuan ini tak akan terjadi jika dia tak bersungut-sungut seperti di telepon tadi.
            “Aku mau meminta maaf.” ucapnya lugu namun penuh rayu. “Aku bersalah.”
            “Baru sadar sekarang? Kemarin kemana aja, tolol!”
            “Aku menyesal. Aku menyesal. Aku menyesal.”
            “Tiga kali ada kata menyesal.”
            “Aku menyesal!”
            “Empat kali.”
            “Kesha…” ia memanggil namaku lembut, aku tak bisa menahan tatapanku agar tak menyorot matanya.
            “Apa?”
            “Maafin aku.”
            “Aku udah maafin kamu bahkan sebelum kamu minta maaf.”
            “Sungguh?”
            Aku mengangguk tanpa pikir panjang, tak ingin percakapan ini berlangsung dengan lamban. Aku ingin semuanya berakhir. Dan, semoga wajah busuk ini tak lagi kutatap.
            “Aku menyesal, Kesha.”
            “Lima kali, cukup. Aku bosan dengar kata menyesal jika kamu sendiri tak pernah mencoba untuk berubah.”
            “Aku harus berbuat apa agar kamu benar-benar ikhlas memaafkanku?”
            “Tidak perlu, semuanya sudah lewat, aku enggak perlu ingat-ingat yang lalu. Semuanya sampah!”
            Nada bicaraku mendiamkan gerak bibirnya, ia menatapku dengan tatapan minta dikasihani.
            “Jangan menatapku dengan tatapan tolol seperti itu, rasa kasihanku sudah habis terhadapmu, bodoh!”
            Ia tak banyak bicara, hanya mendengarkan aku yang terus saja mengumpatnya dan memakinya. Tiba-tiba perasaan kesal itu muncul lagi, bayang-bayang pahit itu kembali berserakan. Aku tak bisa menahan diriku untuk tak memikirkan peristiwa itu. Saat aku mendapati dirinya berciuman dengan seorang gadis di sebuah prakiran trade center daerah Jakarta Selatan. Aku ingin semuanya berlalu dan hilang seperti angin. Sungguh, aku tak ingin mengingat cara dia menyakiti dan mengkhianatiku, tapi aku terlalu lemah.
            Aku tak bisa menyangkal diri, bahwa aku benar-benar mencintainya, dia sudah menjadi bagian dari napasku selama beberapa tahun terakhir. Aku tak mungkin bisa melupakan seseorang yang telah mengisi hari-hariku dengan begitu cepat. Aku butuh waktu. Tapi, semua di luar prediksiku, saat aku ingin melupakannya, dia malah hadir. Berkata maaf, mengucap kata menyesal, dan segala kalimat yang mampu mencairkan hatiku yang sudah sangat beku.
            Aku hanya bisa membohongi diriku sendiri. Memakinya, mencemoohnya, dan menghujaninya dengan kata-kata kasar, namun sebenarnya aku tersiksa. Aku tak bisa menyakiti seseorang yang kucintai, aku lelah terus-menerus menyangkal diri sendiri. Aku mencoba menyadarkan pikiranku yang sempat goyah, kembali meletakkan akal sehatku pada kenyataanyan yang ada. Aku tak mungkin lagi menerimanya kembali, sekeras apapun dia memintaa maaf padaku. Meskipun dia harus meradang, meronta, atau berlutut di hadapanku.
            Setelah lama kudiamkan, dia menangis. Seluruh mata pengunjung restaurant bergeser ke arah kami. Ini air mata pertamanya yang pernah kulihat, bertahun-tahun ia tak pernah menangis di hadapanku. Apakah ini juga bagian dari kebohongan?
            “Sudahlah, Kevin. Aku bukan gadis tolol yang bisa kaupermainkan lagi. Jauh-jauh dari pandanganku, atau perlu menghilanglah dari muka bumi ini!”
            “Aku akan menghilang tanpa kau minta, Kesha.”
            “Baguslah, sadar diri!”
            “Dan, tidak akan pernah kembali.”
            “Itu lebih bagus, selamanya kalau perlu!”
            “Iya, selamanya.”
            Dia mengulang kata ‘selamanya’ dengan tatapan yang bodoh disertai mata yang sembab. Aku tak ingin membuang-buang waktuku. Aku membayar ice cream dengan uangku sendiri, meninggalkan Kevin yang masih menggigil karena perkataanku.
            Mampus kau! Seruku dalam hati. Aku tertawa senang. Aku berhasil menyakitinya. Aku tak menyesal berpisah dengannya. Oh, Tuhan, jadi ini rasanya bahagia?
            Sempurna!
***
            Tak ada lagi komunikasi dengan Kevin. Aku tak pernah mau tahu lagi kabarnya. Telingaku tak ingin lagi mendengar namanya.
            Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Aku bahkan berprestasi dalam banyak hal, tak peduli pada masa lalu yang sempat membayangiku selama ini. Tapi, aku memang tak mampu menyangkal, wajah Kevin masih saja hadir dalam malam-malam sepi ketika aku sedang mendengar lagu favorite kita dulu. Have I Told You Lately That I Love You, Rod Stewart selalu pandai membawakan lagu ini dengan suara yang mendayu-dayu namun menggemaskan. Memang benar, sebuah lagu mampu melempar seseorang kembali ke masa lalunya, dan aku selalu mengalami hal itu, lagi dan lagi.
            Entah mengapa, hari-hariku memang terasa lebih sepi. Aku sering iri melihat teman-temanku berjalan dengan kekasihnya, dan aku hanya berjalan sendirian. Yaaaaah, belajar mandiri, itulah dua kata yang membuatku bertahan sampai saat ini. Kevin, dulu, adalah pria yang baik, namun setelah mengenal wanita jalang itu, dia berubah drastis. Aku membencinya dan sepertinya perasaanku padanya berangsur-angsur mulai hilang.
            Siang ini, aku sudah bersiap-siap ke kampus. Belum sempat membuka pintu kamar, ponselku berdering nyaring.
            Aku menatap ke layar ponsel, nomor tak dikenal. Sebenarnya, aku tak ingin mengangkat panggilan tersebut, tapi entah mengapa, rasanya panggilan tersebut sangat penting.
            “Halo…”
            “Halo… Kesha?”
            Terdengar suara wanita yang rasa-rasanya akrab di telinga.
            “Ini, Tante, Nak.”
            “Tante?”
            “Ibunya Kevin.”
            Deg. Aku lemas, rasanya sulit untuk membuka suara. Aku berusaha keras untuk menahan emosiku dan perasaanku yang mulai tak stabil.
            “Iya, kenapa, Tante?”
            “Mau nemenin Tante sebentar enggak?”
            “Ke mana?”
            “Ke suatu tempat, mungkin kamu suka?”
            Aku terdiam agak lama, berpikir dengan keras. Namun satu kata meluncur dari bibirku, tanpa kuduga. “Oke.”
***
            “Sebenernya Tante udah lama pengen ajak kamu ke sana.”
            Aku masih bingung, tak mengerti arah tujuan. Di mobil aku hanya mengangguk-angguk pelan, tak mengerti pada pembicaraannya yang ngalor-ngidul.
            “Kita mau kemana, Tante?”
            “Nanti, kamu juga tahu sendiri.”
            Jawaban tersebut sama sekali tak membuat diriku puas. Kami melewati padang ilalang dan hamparan rumput yang menghijau. Tanah yang terlihat cukup gersang namun untungnya cuaca hari itu tak begitu panas. Beberapa menit kemudian, Ibu Kevin menggunakan kaca mata hitam dan kerundung berwarna hitam. Ia mengeluarkan kembang tujuh rupa. Aku bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?
            Mobil berhenti, dan rasa ingin tahuku semakin menjadi-jadi. Kami berjalan melewati tanah yang gersang tadi, dan sejauh mata memandang ada beberapa nisan yang terlihat. Aku baru tahu di tempat seindah ini ada pemakaman.
            Beliau menuntunku terus berjalan, kemudian berhenti di sebuah nisan. Aku tak memerhatikan dengan jelas tulisan di nisan itu, aku hanya menatap wajah wanita yang sejak tadi genggaman tangannya semakin erat di jemariku.
            Wanita itu sedikit berjongkok, aku ikut berjongkok.
            “Sudah dua bulan, Kesha.”
            Aku masih diam, dan mendengarkan, karena mungkin saja mendengarkan bisa memberiku jawaban.
            “Dia pergi, sesuai permintaanmu.”
            Dia siapa? Aku tak mengerti, aku masih menyimak perkataan wanita ini dengan santun dan tegas.
            “Kevin sakit, dia selalu sembunyikan penyakitnya darimu.”
            Oh, jadi Kevin sakit? Dirawat di mana dia sekarang? Baguslah, itu karma untuknya, karena telah menyakitiku.
            “Kamu dan Kevin sudah pacaran beberapa tahun.”
            Duh, sialan, mengungkit masa lalu. Masa yang tak pernah ingin kuingat. Sialan.
            “Kevin tahu kamu sangat mencintainya, makanya ia tak ingin kepergiannya menyakitimu.”
            Aku terdiam. Masih tak paham.
            “Ia menyewa seorang wanita, dan merencanakan segalanya yang rumit, membuat semuanya seakan-akan terjadi secara tidak sengaja.”
            Merencanakan?
            “Kevin mencium wanita itu dan kamu lewat di depan mobilnya. Momentum yang pas. Semuanya terjadi sesuai rencananya.”
            Tatapanku tajam menyapu wajah wanita itu, matanya tak terlalu terlihat, kacamata hitam memburamkan tatapannya.
            “Kevin sengaja menyakitimu agar kamu tak pernah menyesal ketika dia pergi. Itulah wujud yang sebenarnya, bahwa dia tak ingin melihatmu terluka. Dia masih mencintaimu.”
            Omong kosong! Teriakku dalam hati.
            “Dia baik sekali, Kesha. Dan kau tak menyadari bahwa pertemuan terakhir kalian adalah saat kau memakinya.”
            Jutaan panah seperti melesat ke jantungku. Aku tak bisa bernapas.
            Aku menatap nisan itu. Ada namanya. Nama pria yang selama ini sempat memutarbalikkan duniaku. Kevin.
            “Perjuangannya memang tidak sia-sia, kau tidak terlihat terluka dan menyesal. Kevin berhasil menahan air matamu, Kesha. Lihatlah, kamu tidak menangis.”
            Aku terdiam, tak bisa berkomentar banyak. Bibirku terlalu kelu. Aku tak menyangka perjuangan Kevin begitu besar untukku.
            Napasku masih tercekat, dan sekarang aku tahu rasanya menangis.
            Air mata.
With love :)
By Dwitasari
Learn more »

Siapa Namamu?

            “Saling promote sama akun gue?”
            Aku menghela napas ketika membaca kalimat itu di layar bb-ku. Dia lagi. Dia lagi. Dia lagi.
            “Oke, kalau gue udah promote akun lo, langsung gue kasih tahu.”
            “Oke.”
            Sesingkat itu. Selalu seperti itu. Berjam-jam. Berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Tak berbeda. Selalu sama. Dan, aku hanya bisa diam, tanpa mau berkata lebih banyak ataupun menulis lebih banyak. Semua berjalan begitu saja, lama-lama aku juga muak sendiri.
            Lama aku  memerhatikannya, tentu saja tanpa sepengetahuannya. Aku suka tulisannya dan bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta pada barisan seratus empat puluh karakter yang ia tuliskan di akunnya. Tak peduli semua tulisan itu hasil otaknya sendiri atau hasil pemikiran orang lain, aku tak peduli! Seakan-akan sosoknya semakin nyata dalam otakku, seakan-akan tulisannya sangat bernyawa dalam hari-hariku.
            “Saling promote sama akun gue?”
            Pertanyaannya selalu sama. Aku mengetik keypad blackberry-ku dengan malas. Orang ini benar-benar tak menyadari perasaanku. Tapi, bagaimana ia akan menyadari kalau aku hanya terus diam?
            “Oke, kalau gue selesai promote akun lo, pasti gue kasih tahu.”
            “Oke.”
            Hey, kamu! Apakah isi otakmu hanyalah “Saling promote sama akun gue?” dan “Oke” saja? Mungkinkah isi otakmu hanya terdiri dari enam kosakata itu? Tak ada kosakata lain dalam pikiranmu? Pertanyaan “Sedang apa?” misalnya. Atau kalimat-kalimat selain dua kalimat yang selalu kau lontarkan?
            “Saling promote sama akun gue?”
            Ini lagi. Ini lagi. Ini lagi. Masa kata-katanya sama lagi? Kamu sudah gila ya?
            “Iya.” jawabku singkat, sekenanya.
            “Tumben jawabnya cuma iya?”
            “Lho, kenapa?” Aku kaget, dia menanggapi jawaban singkatku.
            “Tidak seperti biasanya.”
            “Memangnya elo merhatiin?”
            Diam. Tak ada jawaban. Sial!
            Aku berpikir keras, ada apa dengan seseorang di sudut sana. Aku bahkan tak tahu namanya, juga tak tahu bagaimana wujudnya. Kami hanya sebatas admin yang berhubungan hanya untuk saling promote akun. Salahkah jika semuanya bertumbuh lebih dari itu?
            Salahkah jika aku merasa lebih dari sekedar teman saling promote?
            Dia memang tidak  merasakan yang aku rasakan.
            “Hey.”
            Aku membuka mataku yang setengah mengantuk, ada PING!!! Berkali-kali darinya. Sekali lagi, dia tak seperti biasanya.
            “Ya?”
            “Emh... belum tidur?”
            “Menurut lo, apa yang lo lakuin kalau di PING berkali-kali?”
            “Hahahaha.” gelak tawanya seakan-akan membahana dalam tulisan. “Kita kok kayaknya enggak ada bahan omongannya ya?”
            “Maksud elo?”
            “Ya, bahan omongan, selain saling promote akun, maksud gue.”
            “Oh, itu toh maksud elo.”
            “Jadi... nama lo siapa?”
Learn more »